Kerajaan Kalingga: Sejarah, Sumber, Silsilah, Peninggalan

Kerajaan Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) merupakan salah satu Kerajaan bercorak budha di Indonesia. Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Kerajaan ini penduduknya beragama Hindu dan Budha.

Kerajaan-Kalingga

Dalam berita-berita dari Cina dari jaman pemerintahan raja-raja t’ang (681-906) ada di sebut nama kerajaan Kalingga atau Holing. Letaknya di Jawa Tengah. Tanahnya sangat kaya, dan disitu ada pula sumber air asin. Rakyatnya hidup makmur dan tentram.

Sejak tahun 674 kerajaan Kalingga di perintah oleh seorang raja perempuan bernama Shima. Pemerintahannya sangat keras, tetapi berdasarkan kejujuran mutlak. Tidak ada seorang pun yang berani melanggar hak dan kewajiban masing-masing.

Di ceritakan bahwa sang raja sengaja meletakkan kantong berisi emas di tengah jalan, dan tak ada oranag yang mempunyai pikiran untuk mengambilnya, sampai tiga tahun kemudian putra mahkota secara kebetulan menyentuhnya dengan kakinya, dan ia mendapat hukuman dengan kakinya yang dipotong.


Sejarah Kerajaan Kalingga

Kalingga atau Ho-ling “sebutan dari sumber Tiongkok” merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Yang letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang.

Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan Tiongkok, tradisi kisah setempat dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh.

Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumberu-sumber Tiongkok, kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri akan dipotong tangannya.


Sumber Sejarah Kerajaan Kalingga

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang mempunyai nama Mandiminyak, yang lantas menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima mempunyai cucu yang mempunyai nama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yakni Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa mempunyai anak yang mempunyai nama Sanjaya yang besok menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Setelah Maharani Shima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang lantas disebut Bumi Mataram, dan lantas mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya untuk putranya dari Tejakencana, yakni Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan mempunyai putra yakni Rakai Panangkaran.

Pada abad ke-5 hadir Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diduga terletak di unsur utara Jawa Tengah. Keterangan mengenai Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan daftar dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi distrik taklukan Sriwijaya disebabkan kerajaan ini menjadi unsur jaringan perniagaan Hindu, bareng Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya sudah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan itu menjadi pesaing powerful jaringan perniagaan Sriwijaya-Buddha.


Berita eksistensi Ho-ling pun dapat didapatkan dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan daftar I-Tsing.


  • Catatan dari zaman Dinasti Tang

Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M – 906 M) menyerahkan tentang penjelasan Ho-ling sebagai berikut:

  1. Ho-ling atau dinamakan Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
  2. Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang tercipta dari tonggak kayu.
  3. Raja bermukim di sebuah bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya tercipta dari gading.
  4. Penduduk Kerajaan Ho-ling telah pandai menciptakan minuman keras dari bunga kelapa
  5. Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan dari berita Cina ini pun menuliskan bahwa semenjak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia ialah seorang ratu yang paling adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling paling aman dan tentram.


Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) melafalkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa sudah menjadi di antara pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling terdapat pendeta Cina mempunyai nama Hwining, yang menerjemahkan salah satu buku agama Buddha ke dalam Bahasa Cina. Ia berkolaborasi dengan pendeta Jawa mempunyai nama Janabadra. Kitab terjemahan tersebut antara beda memuat kisah tentang Nirwana, tetapi kisah ini bertolak belakang dengan kisah Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.


Berdirinya Kerajaan Kalingga

Awal berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7, nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada tautan antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka.

Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga memiliki ide bahwa Pekalongan merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kalinga-an.

Pada tahun 674 kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan peraturan kejamnya terhadap pencurian dimana hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran. Menurut cerita-cerita yang berkembang di masyarakat pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal.

Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang memohon agar Shima hanya memoptong kakinya karena kakinya lah yang bersalah. Dalam beberapa cerita orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari dari anaknya.

Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga, kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang muali meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.

Seperti kebanyakan kerjaan lainnya di Indonesia kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan ialah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling tepatnya di desa Tempur, Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tuas dari Candi Borobudur, Candi Bubrah di lain sisi merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.


Letak Kerajaan Kalingga

Letak kerajaan kalingga hingga kini belum dapat di pastikan. Hal itu di sebabkan karena adanya beberapa pendapat yang yang berbeda dalam membahas letak kerajaan tersebut, di antaranya :

  1. Menurut berita Cina yang berasal dari Dinasti Tang menyebutkan bahwa letak kerajaan kalingga berbatasan dengan laut sebelah selatan, Tan-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-Li (Bali) di sebelah timur, dan To-Po-Teng di sebelah barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-Po (jawa) sehingga berdasarkan berita cina tersebut dapat di simpulkan bahwa kerajaan kalingga / holing terletak di pulau jawa, khususnya jawa tengah.
  2. Dalam menentukan letak kerjaan kalingga/holing, J.L. Moens meninjau dari segi perekonomian, yaitu pelayaran dan perdagangan. Alasannya, selat malaka merupakan selat yang sangat ramai dalam aktivitas pelayaran perdagangan. Pendapat J.L. Moens ini di perkuat dengan di pertemukannya sebuah daerah di Semenanjung Malaya yang bernama Keling.

Silsilah Raja Kerajaan Kalingga

Raja yang paling dominan di Kerajaan Kalingga ialah tidak beda Ratu Shima/Sima yang dirasakan sebagai Raja yang sangat adil, menjunjung tinggi hukum, dan bijaksana. Namun, keberhasilannya pun tidak bisa diraih tanpa silsilah borongan dari Kerajaan ini, Berikut ialah urutan Raja-Raja yang pernah memerintah Kalingga.

  1. Prabu Wasumurti (594-605 M)
    Diperkirakan adalahpendiri Kerajaan Kalingga, tidak saja itu saja, dimungkinkan pula bahwa dengan menegakkan Kalingga ia pun menjadi asal-muasal Kerajaan Mataram Kuno yang menjadi di antara Kerajaan terkuat di Nusantara.
  2. Prabu Wasugeni (605-632 M)
  3. Prabu Wasudewa (632-652 M)
  4. Prabu Wasukawi (652 M)
  5. Prabu Kirathasingha (632-648 M)
  6. Prabu Kartikeyasingha (648-674 M)
    Berkuasa bareng Ratu Sima sekitar 26 tahun, adalahmenantu Prabhu Wasugeni sesudah menikah dengan Dewi Wasuwari (Ratu Sima).
  7. Ratu Shima (674-695 M)
    Merupakan raja Kerajaan Kalingga yang dirasakan paling berpengaruh, terkenal, dan sukses membawa Kerajaan ini ke masa kejayaannya. Ia ialah Ratu, Maharani atau Raja Wanita kesatu dari Kerajaan ini yang membuatnya istimewa. Seakan sudah menyerukan nafas feminisme yang powerful dari masa lampau yang banyak sekali masih menganut sistem patriarki.

Perkembangan Kerajaan Kalingga

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Holing sudah teratur rapi. Hal ini disebabkan karena sistem pemerintahan yang keras dari Ratu Sima. Di samping sangat adil dan bijaksana dalam memutuskan suatu masalah. Rakyat sangat menghormati dan mentaati segala keputusan Ratu Sima.

Ratu sima tidak pernah memihak dalam sosialnya ia hanya membina dan sebagai penguasa kerajaan. Karena sifat Ratu Sima yang sangat keras ia langsung membanggun lembaga masyarakat yang sudah jelas fungsi dan tugasnya. Ratu Sima mendirikan lembaga masyarakat untuk membantu dirinnya dalam mengatasi rakyatnya.

Lembaga yang sudah terbentuk sudah memberlakukan sistem perundang-undangan. Beliau telah membuat dan menyusun perundang-undang yang sempurna dengan dibantu lembaga masyarakat. Hadirnya sistem perundang-undangan tersebut berjalan dengan baik .


Kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Holing berkembang pesat. Masyarakat Kerajaan Holing telah mengenal hubungan perdagangan. Mereka menjalin hubungan perdagangan pada suatu tempat yang disebut dengan pasar. Pada pasar itu, mereka mengadakan hubungan perdagangan dengan teratur. Kegiatan ekonomi masyarakat lainnya diantaranya bercocok tanam, menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading.

Di Holing ada sumber air asin yang dimanfaatkan untuk membuat garam. Hidup rakyat Holing tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Berkat kondisi itu rakyat Ho-ling sangat memperhatikan pendidikan. Buktinya rakyat Ho-ling sudah mengenal tulisan, selain tulisan masyarakat Ho-ling juga telah mengenal Ilmu perbintangan dan dimanfaatkan dalam bercocok tanam.

Rakyat dari kerajaan tersebut hidupnya makmur dari hasil bercocok tanam serta mempunyai sumber air asin. Hidup mereka tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Ilmu perbintangan sudah dikenal dan dimanfaat dalam bercocok tanam.

Kegiatan ekonomi Kalingga adalah perdagangan dan pelayaran karena letak kerajaan di semenanjung melayu. Jadi perdagangan sangat lah lancar dan terkendali, perdagangannya amat maju dan pelayaran disana sebagai alat transportasi yang mudah juga cepat. Hal ini yang mendukung perkembangan ekonomi di kerjaan Holing.

Transportasi dan pemerintahan yang bagus itu menggaibatkan terjadinya hubungan perdagangan antar negara lain. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan kerajaan holing sangat amat berkembang dengan pesat.


Mayoritas masyarakatnya memeluk agama budha begitu juga dengan kebudayaanya banyak di pengaruhi oleh budaya india. Selain agamanya yang lekat dan kental banyak tercampur dan terpengaruh dengan adat istiadat kebudayaan orang india hal ini juga berpengaruh pada Ratu Sima karena menerima dengan baik kebudayaan india masuk di kerajaan Holing.


Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa Kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Sima. Pemerintahannya berlangsung dari sekitar tahun 674 masehi. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana. Kepada setiap pelanggar, selalu diberikan sangsi tegas. Rakyat tunduk dan taat terhadap segala perintah Ratu Sima.

Bahkan tidak seorang pun rakyat atau pejabat kerajaan yang berani melanggar segala perintahnya. Diceritakan, mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.


Runtuhnya Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga bisa jadi diruntuhkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Serangan Sriwijaya memaksa pemerintahan Kalingga guna mundur sampai ke terpencil Jawa unsur tengah atau bahkan Jawa Bagian Timur pada selama tahun 742-755 M.

Sriwijaya akhirnya sukses menguasai teritori Kalingga beserta jalur perdagangannya sesudah sebelumnya telah sukses menaklukan Melayu dan Tarumanegara. Di samping itu, dalil lainnya diduga bahwa sesudah kematian Ratu Sima, kerajaan ini telah mulai merasakan penurunan pula.


Peninggalan Kerajaan Kalingga

Berikut adalah berbagai peninggalan dan sumber sejarah yang dapat diamati untuk mempelajari Kerajaan Kalingga.


  • Prasasti Tuk Mas (Tukmas)

Prasasti ini ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Prasasti ditulis memakai huruf palawa dalam bahasa Sanskerta.

Isi prasasti menjelaskan tentang mata air yang amat bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air itu diibaratkan sama dengan Sungai Gangga di India. Terdapat gambar-gambar emblem Hindu seperti: keong, kendi, trisula, cakra, bunga teratai dan kapak di dalam prasasti.


Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti memakai aksara Kawi dalam bahasa Melayu Kuno. Diperkirakan prasasti ini sudah ada dari semenjak abad ke-7 masehi.

Prasasti memuat family dari figur utamanya yaitu Dapunta Salendra, anak dari Santanu dan ibunya yang benama Bhadrawati. Sementara istrinya mempunyai nama Sampula. Boechari () berasumsi bahwa figur yang mempunyai nama Dapunta Sailendra ialah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Medang.

Kedua temuan prasasti Sojomerto mengindikasikan bahwa dulunya, di area pantai unsur utara Jawa tengah berkembang kerajaan bercorak Hindu Siwais. Catatan ini mengindikasikan adanya hubungan Kalingga dengan Wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang yang berkembang lantas di Jawa unsur Tengah Selatan.


Candi Angin ditemukan di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Karena letaknya yang paling tinggi (berangin) tetapi boleh disebutkan tidak roboh tertiup angin, maka candi ini disebut Candi Angin.

Berdasarkan keterangan dari para peneliti, Candi Angin bahkan lebih tua dari Candi Borobudur. Beberapa Ahli malah berasumsi bahwa Candi ini di bina oleh insan purba sebab belum ada ornamen-ornamen Hindu-Buddha.


Candi Bubrah adalahsalah satu Candi Buddha yang berada dalam perumahan Candi Prambanan. Tepatnya, salah satu Percandian Rara Jonggrang dan Candi Sewu. Candi ini ditemukan di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Candi ini diduga sebetulnya mempunyai ukuran 12 m x 12 m tercipta dari batu andesit. Namun, yang tersisa dari candi ini hanyalah reruntuhan setinggi 2 meter saja. Saat ditemukan terdapat sejumlah arca Buddha, tetapi wujudnya telah tidak utuh lagi.

Disebut candi Bubrah sebab Candi ini ditemukan dalam suasana rusak yang dalam bahasa Jawa ialah “bubrah”. Perkiraan semua Ahli, Candi ini di bina pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno yang masih bersangkutan dengan Kerajaan Kalingga.


Situs ditemukan di Puncak Gunung Muria, yaitu Rahtawu, tidak jauh dari Kecamatan Keling. Di lokasi situs, ditemukan empat arca batu, yakni:

  1. Arca Batara Guru
  2. Narada
  3. Togog
  4. Wisnu

Hingga ketika ini belum dapat dijamin bagaimana keempat arca itu dapat dibawa ke puncak gunung, menilik medan pemanjatan yang begitu berat. Di samping keempat arca tersebut, Prasasti Rahtawun pun ditemukan pada tahun 1990 oleh Prof. Gunadi dan empat staffnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta.

Di area situs pun ditemukan enam lokasi pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah sampai menjelang puncak gunung. Masing-masing diberi nama pewayangan: Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.


Demikianlah pembahasan mengenai Kerajaan Kalingga: Sejarah, Sumber, Letak, Berdiri, Silsilah, Perkembangan, Runtuh dan Peninggalan semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Baca Juga:

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari

You May Also Like

About the Author: detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.