Niat Ganti Puasa Qadha Ramadan Bahasa Arab, Latin, & Arti

Seorang muslim yang tidak dapat mengerjakan puasa Ramadan dengan penuh karena beberapa halangan, tetap wajib mengganti (mengqadha) puasa yang ditinggalkan itu pada hari lain di luar Ramadan.

Hukum melaksanakan puasa qadha adalah wajib, bagi orang yang karena alasan syar’i tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Nama lain puasa qadha adalah puasa untuk membayar utang puasa atau puasa pengganti hutang puasa Ramadan.

Ustaz Abdul Somad (UAS) menjelaskan, Puasa Qadha atau membayar utang puasa Ramadhan harus lebih diutamakan untuk dikerjakan terlebih dahulu baru melaksanakan puasa Syawal.

Niat puasa qadha (ganti) dapat dilafalkan dengan bahasa Arab.

Puasa Ramadan termasuk dalam rukun Islam, dan menjadi kewajiban setiap muslim yang mukallaf.

Meskipun demikian, Allah memberikan keringanan (rukhshah) untuk beberapa golongan tidak mengerjakannya.

Niat qadha puasa Ramadan sendiri, dibaca pada malam hari seperti ketika seseorang mengerjakan puasa Ramadan, dengan lafal bahasa Arab sebagai berikut.

Niat Ganti Puasa: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta’ala.”

Orang Yang Diperbolehkan Meninggalkan Puasa

1. Orang sakit dan sakitnya tersebut membuatnya lemah dan tidak mampu melaksanakan puasa boleh meninggalkan puasa pada hari dimana ia sakit dan mengqadhanya dikemudian hari. Namun orang yang sakit ringan dan masih mampu berpuasa tetap harus melaksanakan puasa sehingga apabila ia meninggalkannya maka ia berdosa. (baca tips puasa bagi penderita maag)

2. Musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh dan perjalanannya tersebut cukup jauh atau sama halnya dengan mengqashar atau jama’ shalat wajib.

3. Wanita yang haid atau nifas dapat meninggalkan puasa dan mengganti puasa tersebut dilain hari setelah ramadhan karena darah haid tersebut membatalkan puasa seseorang.

4. Wanita yang hamil dan menyusui. Adapaun wanita yang sedang hamil dan menyususi boleh tidak berpuasa atau meninggalkan puasa ramadhan apabila sekiranya ia tidak sanggup atau lemah dab apabila ia berpuasa dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan atau perkembangan bayinya tersebut.

You May Also Like

About the Author: detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.