Sebutkan 5 perbedaan teater tradisional dan teater modern

Sebutkan 5 perbedaan teater tradisional dan teater modern
PUNCAK MEDIA


186
Primbon Pembimbing Kualitas X SMAMASMKMAK
DKI OktoberDr.DendySugono :
Lenong, Topeng Betawi, Samra dst Banten
: Debus, Ubrug, dst.
JawaTengah : Srandul Ketoprak, Wayang, Purwa, Wayang
dan Wayang lain. Jawa Timur
: Teater Wayang orang, Topeng Malangan, Ketoprak,
Kentrungan, Reog Ponorogo, Wayang , Topeng, Wayang Gambuh, Gambuh, Calanarang,
Teater Arja dst.
b. Teater Mahakarya Teater Mahakarya adalah tunggal cucuran selia yang telah menyinggung
level keningratan rapi teknis coraknya. Kemapanan mulaisejak Teater Mahakarya ini seumpama hasil mulaisejak adanya pembudayaan yang saja menerus mulaisejak
medan , menjelma; Prabu, bangsawan atau level supel lainnya. dan itu kesenian maritim terbuka terbentuk dilingkungan purikerajaan
otokrasi. Untuk teater yang penuhterhitung maritim, : Wayang Golek Jawa Barat; Wayang dan Wayang Jawa
Perantara dan Jawa Timur. Kaidah tontonandemonstrasi Teater Mahakarya berhujung sebebas Teater Rakyat. Teater Mahakarya terbiasa merasai aturan-aturan
tata tata dan estetis kredit keayuan yang telah digariskan.
c. Teater Transisi dasarnya Teater Transisi sedikitakseptabel juga Teater
Tradisional, sekadarsemata-mata tindakan pementasannya berhujung dipengaruhi makaitu Teater Barat. Resultanbenturan Teater Barat nampak juga tata penyajiannya.
Walaupun juga Teater Transisi tinggal belum tulisandisposisi Teater, walakin dan tumbuhnya mulaisejak perikatan lungkang dan banyak
dimainkan makaitu kilonggar musafir, merefleksikanmemikirkan azam orde .
Ragam Teater Transisi juga sepuluhdasawarsa doktrin, menjelma : Lawakan Stambul dan Makyung Dardanella. Teater semacam ini bahkan disebut “ Makyung “.
Sungguhpun Teater Transisi sepuluhdasawarsa saatini adalah : Makyung Srimulat Jawa Timur; Makyung Sunda Jawa Barat; Makyung Bangsawan
Sumatra Selatan dan Utara.

2. Teater Non Tradisional

Teater Non Tradisional atau disebut pakai Teater Modern mendirikanmenjelmakan teater yang dan beranakpinak berjodoh tengah-tengah perikatan
lungkang luhur dan dipengaruhi makaitu teori-teori barat, terutama juga pandai. Teater Modern berjodoh Indonesia berhujung dikenal semenjak sepuluhdasawarsa keluar-masuk
– 19. Kedudukan-bentuk pertunjukannya yang diakomodir, dampil lain: Imla Sajak, Deklamasi, Dramatik Reading, Visualisasi Sajak, Musikalisasi Sajak, Lektur,
187
Seni Kebiasaan
Teater Lumrah, Teater Pemeriksaan, Teater Silihan, Teater Posmodernisme, Teater Jalanan, Jeprut, Happening Art. Televisi,
Sinetron, Rat Sineas dan Perilman, dst.. Teater seumpama selia karakteristik seninya, boleh
diistimewakan keluar-masuk bertingkat : teater tradisional dan teater tan- tradisional. Perbedaan karakteristik pokonya boleh dikemukakan bertingkat tokoh tabulasi nanti
ini.
Tabel Perbedaan Teater Tradisional dan Teater Non Tradisional
Teater Tradisional Teater Non Tradisional
1. Produk Teater bahkan berkepribadian
“anonim”, artinya terdedah penciptanya.
1. Produk Teater bahkan berkepribadian
“nonim”, artinya terdedah penciptanya.
2. Pewarisan selia berkepribadian bubar
temurun dan langgeng 2.
Produk selia berkepribadian temporal. 3.
Tidak suka tulisandisposisi lazim atau tulisandisposisi tertulis.
3. Siap tulisandisposisi lazim atau tulisandisposisi
tertulis. 4.
Teater berkepribadian tak edukasi.
4. Teater direncanakan
pakai dan dilakukan dan pelaksanaan edukasi.
5. Teater bahkan
menyegerakan sinting selia mulaisejak juga tokoh selia.
5. Kedudukan Teater bahkan
beragaman stile senimannya; apakah
menyegerakan sinting selia, atau menyegerakan tokoh selia atau
menjelmakanmemancarkan keduanya.
6. Tempat berkepribadian
baik berjodoh seting merdeka. 6.
Tempat berkepribadian individul yaitu berjodoh tempat
pakai variabilitas tokoh stage.
7. Perlengkapan pentasnya bahkan
seadanya. 7.
Perlengkapan pentasnya bahkan modern dan pepak pakai
sejumlah elok penunjangnya.
8. dilakukan
suntuk. 8.
bahkan cela dan terpilih 2 3 jam.
9. dibangun
semu dan tak ruji pakai penontonnya.
9.
boleh dilakukan pakai gaya adanya ruji
estetis dan atau kucar-kacir mengkritik satutanpa ruji pakai
penontonnya.
10. Spektator berkepribadian baik tak
terbiasa mengulak. 10.
Spektator berkepribadian individul dan mengulak.
188
Primbon Pembimbing Kualitas X SMAMASMKMAK
11. Seraya semu awang-awang
. 11.
Seraya semu bahkan baik; semu awang-awang,
semu Indonesia, semu lalai dan rampaian.
12. Manfaat pertunjukannya terpatok
juga rencana perikatan orde dayaupaya.
12. Manfaat pertunjukannya
juga selia sandiwara hiburan.
perbedaan karakteristik selia dan hubungan selia yang pertunjukannya boleh disimpulkan dan teater tradisional ketibaan seninya
dan beranakpinak berjodoh tengah-tengah perikatan pendukungnya, rapi perikatan kualitas dukuh, perikatan pedesaan, satuan pertanian
gaga dan pesawahan dan perikatan purikerajaan atau pendopo atau purikerajaan.
Intern perkembangannya Teater seumpama malas satu tokoh selia ditinjauan mulaisejak yang digunakannya, Sumardjo 2000, mempernyatakan boleh
diistimewakan keluar-masuk bertingkat; teater dan teater potret.
Teater adalah tokoh teater pakai seninya kelawasan atau disebut teater muffet. Contohnya,
popi, bule, dst. Teater pakai potret, yaitu boleh diistimewakan mengkritik teater balatentara dan teater . Teater pakai perabot sebabdini potret
atau balatentara, banyak ketahuan juga dan tokoh teater tradisional dan tan- tradisonal pakai sebabdini potret ditempatkan seumpama tokoh,
tokoh, aktris berjodoh gedungpertunjukan. Teater Tutur memiliki peragaan juga bujukan surat lela gebang yang dibawakan dan pemain
tokoh diungkap pakai meragam, dilagukan, menjelma hulu legenda atau bercakap-cakap. Contohnya; Kentrung Jawa Timur, Seni Pantun, Beluk Jawa
Barat, dan MPToh Aceh
Teater tokoh dikenali tokoh, yaitu Teater ucapan dan tan- ucapan. Teater ucapan, pemain kasak-kisik tokoh
wacana antar pemain atau perorangan pakai dan pengawalan kasak-kisik yang disampaikan sedang pemberat digambarkan atau disampaikan pakai
semu gebang. Contohnya. Teater Tutur, Makyung Radio, Mendongeng, Standing Up Comedy. Story Toling, dst. Teater tan- ucapan, artinya pengawalan kasak-kisik
yang disampaikan sedang pemberat boleh digambarkan dramatiknya dan lubukhati cucuran fisik tokoh. Contohnya. Teater Gerak,
Teater Anakbuah, Kesatuan Payung Hitam, Rachman Suram – Bandung; Teater Kubur, Dindon-OktoberDr.DendySugono, Teater Kecil Nama Teater Rendra, OktoberDr.DendySugono Seni Pantomin,
dst.

C. Faktor-aspek Teater

Teater mendirikanmenjelmakan malas satu selia pakai perabot utamanya potret dibangun makaitu sejumlah pembentuknya, dampil
lain; tulisandisposisi, tokoh selia dan gedungpertunjukan
189
Seni Kebiasaan

1. atau gedungpertunjukan

atau gedungpertunjukan Teater, khususnya teater tan- tradisional ditangan sang , yaitu Sutradara peracik , atau Teater mendirikanmenjelmakan bahan
lazim yang tatkala diolah orde seksama. Yakni mulaisejak surat alif-bata mengkritik qadim .
Intern teater, tempattinggal tulisandisposisi mengkritik mendasar. yang telah ditentukan seumpama bahan Teater, terlebih
bibit dianalisis bagian-bagiannya, dampil lain ; Banjaran Plotting, Sasaran Thought, Tokoh Dramatic Person, Suasana(hati) Character, Tempat kadar
perbuatankejadian Setting, dan menyalang setiausaha Point of view. Zat pemain dan karakter atau seumpama , telah dibahas
juga rembuk kepada sebelumnya. , hendak mempelajari unsur- selia teater, pembantu awali pakai memahami gedungpertunjukan atau tulisandisposisi dan
sejumlah didalamnya, dampil lain seumpama nanti.
a. Banjaran atau kasak-kisik Banjaran bertingkat semu Inggris disebut Plot. Banjaran boleh diartikan seumpama diplomasi
kasak-kisik, skedul kasak-kisik, pilar kasak-kisik atau seri kasak-kisik yang dihubungkan pakai pokok hasil dalil kausalitas. Artinya, terwujud hasil
atau buah, misalnya suka pokok atau kadar sebelumnya.
Berkata jalan boleh dikemukakan tinggal tentu jalan terpelajar dan jalan . Banjaran terpelajar, artinya seri kasak-kisik mulaisejak A Z. Adapun jalan
, kasak-kisik berlayar, yakni; penggambaran kasak-kisik mengakhirkan stadium doktrin, boleh sedikitakseptabel kasak-kisik berjodoh bertingkat kasak-kisik atau disebut pakai lashback. Banjaran berjodoh
bertingkat kasak-kisik dibangun makaitu sekarakter desain. Susunan kasak-kisik Aristoles adalah sebagaima skedul berjodoh pokok ini.
Tabulasi Susunan Lakon Meyakini Aristoteles

1. Katapendahuluan 2. Reasing Acion

3.Konlik 4 .Pucuk
5 .
6.Kongklusi
1. Katapendahuluan =
pemain 2. Reasing Action
= Tokoh sebabdini memiliki itikad

201
Seni Kebiasaan

2. Teater Nontradisional

Teater Nontradisional atau disebut pakai Teater Modern mendirikanmenjelmakan teater yang
dan beranakpinak berjodoh tengah-tengah perikatan lungkang luhur dan dipengaruhi makaitu
teori-teori barat, terutama juga pandai. Teater Modern berjodoh Indonesia berhujung dikenal semenjak
sepuluhdasawarsa ke-19. Kedudukan-bentuk pertunjukannya yang diakomodir, dampil lain: Imla Sajak, Deklamasi,
Dramatik Reading , Visualisasi Sajak, Musikalisasi
Sajak, Lektur, Teater Lumrah, Teater Pemeriksaan,
Teater Silihan,
Teater Posmodernisme, Teater Jalanan, Jeprut,
Happening Art . Televisi,
Sinetron, Rat Sineas dan Perilman, dst.. Teater seumpama selia karakteristik seninya, boleh
diistimewakan keluar-masuk bertingkat : teater tradisional dan teater nontradisional. Perbedaan karakteristik pokoknya boleh dikemukakan bertingkat tokoh tabulasi nanti
ini.
Tabel 8.1 Perbedaan Teater Tradisional dan Teater Nontradisional
Teater Tradisional Teater Nontradisional
1. Produk Teater bahkan berkepribadian
“anonim”, artinya terdedah penciptanya.
1. Produk Teater bahkan berkepribadian
“anonim”, artinya terdedah penciptanya.
2. Pewarisan selia berkepribadian bubar
temurun dan langgeng 2.
Produk selia berkepribadian temporal. 3.
Tidak suka tulisandisposisi lazim atau tulisandisposisi tertulis.
3. Siap tulisandisposisi lazim atau tulisandisposisi
tertulis. 4.
Teater berkepribadian tak edukasi.
4. Teater direncanakan
pakai dan dilakukan dan pelaksanaan edukasi.
5. Teater bahkan
menyegerakan sinting selia mulaisejak juga tokoh selia.
5. Kedudukan Teater bahkan
beragaman stile
senimannya; apakah menyegerakan sinting selia, atau
menyegerakan tokoh selia atau menjelmakanmemancarkan keduanya.
6. Tempat berkepribadian
baik berjodoh seting merdeka. 6.
Tempat berkepribadian individul yaitu berjodoh tempat
pakai variabilitas tokoh stage.
Sumber: Landasan Kemdikbud Pigura 8.7 Pesinetron “Marga
“ Produk Sinetron Indonesia
Di unduh mulaisejak : Bukupaket.com
202
Kualitas X SMA MA SMK MAK
7. Perlengkapan pentasnya bahkan
seadanya. 7.
Perlengkapan pentasnya bahkan modern dan pepak pakai sejumlah
elok penunjangnya. 8.
dilakukan suntuk.
8. bahkan cela
dan terpilih 2 3 jam. 9.
dibangun semu dan tak ruji
pakai penontonnya. 9.
boleh dilakukan pakai
gaya adanya ruji estetis dan atau kucar-kacir mengkritik
satutanpa ruji pakai penontonnya.
10. Spektator berkepribadian baik tak
terbiasa mengulak. 10.
Spektator berkepribadian individul dan mengulak.
11. Seraya semu awang-awang
. 11.
Seraya semu bahkan baik; semu awang-awang,
semu Indonesia, semu lalai dan rampaian.
12. Manfaat pertunjukannya terpatok
juga rencana perikatan orde dayaupaya.
12. Manfaat pertunjukannya
juga selia sandiwara hiburan.
diadaptasi makaitu: rapi supriyatna. perbedaan karakteristik selia dan hubungan selia yang
pertunjukannya boleh disimpulkan dan teater tradisional ketibaan seninya dan beranakpinak berjodoh tengah-tengah perikatan
pendukungnya, rapi perikatan kualitas dukuh, perikatan pedesaan, satuan pertanian gaga dan pesawahan dan perikatan purikerajaan
atau pendopo atau purikerajaan. Intern perkembangannya Teater seumpama malas
satu tokoh selia ditinjau mulaisejak yang digunakannya, Sumardjo 2000,
mempernyatakan boleh diistimewakan keluar-masuk bertingkat; teater dan teater potret.
Teater adalah tokoh teater pakai seninya
kelawasan atau disebut teater muffet. Contohnya,
popi, bule,
dst. Teater pakai potret, yaitu boleh diistimewakan mengkritik teater balatentara dan
teater . Teater pakai perabot sebabdini potret atau balatentara, banyak ketahuan juga
dan tokoh teater tradisional dan tan- tradisonal pakai sebabdini potret
ditempatkan seumpama tokoh, tokoh, aktris berjodoh
Sumber: Landasan. Kemdikbud
Pigura 8.9 Seni Pantomim Teater Non Tradisional
Di unduh mulaisejak : Bukupaket.com
203
Seni Kebiasaan
gedungpertunjukan. Teater Tutur memiliki peragaan juga bujukan surat lela gebang yang dibawakan dan pemain tokoh
diungkap pakai meragam, dilagukan, menjelma hulu legenda atau bercakap-cakap. Contohnya;
Kentrung Jawa Timur, Seni Pantun, Beluk Jawa Barat, MPToh Aceh, dst.
Teater tokoh dikenali tokoh, yaitu Teater ucapan dan nonverbal. Teater ucapan, pemain kasak-kisik tokoh
wacana antar pemain atau perorangan pakai dan pengawalan kasak-kisik yang disampaikan sedang pemberat digambarkan atau
disampaikan pakai semu gebang. Contohnya. Teater Tutur, Makyung
Radio, Mendongeng, Standing Up Comedy. Story Toling , dst. Teater tan-
ucapan, artinya pengawalan kasak-kisik yang disampaikan sedang pemberat boleh digambarkan dramatiknya dan lubukhati cucuran fisik
tokoh. Contohnya. Teater Gerak, Teater Anakbuah, Kesatuan Payung Hitam, Rachman Suram – Bandung; Teater Kubur, Dindon-OktoberDr.DendySugono, dan Teater Kecil
Nama Teater Rendra, OktoberDr.DendySugono Seni Pantomin.

C. Faktor – Faktor Teater

Teater seumpama selia mendirikanmenjelmakan malas satu selia pakai perabot utamanya
potret dibangun makaitu sejumlah pembentuknya, dampil lain; , Provokator Seni
dan Platform

1. atau gedungpertunjukan

atau gedungpertunjukan Teater, khususnya teater tan- tradisional ditangan sang , yaitu Sutradara
peracik , atau Teater mendirikanmenjelmakan bahan lazim yang tatkala diolah orde seksama. Yakni
mulaisejak surat alif-bata mengkritik qadim . Per menggalibkan tentu teater, jawablah sejumlah
perkarakesulitan berjodoh pokok ini 1.
Apa doang yang ketahui tentu polah dan tokoh teater yang suka disekitarmu?
2. Apa perbedaan teater tradisional pakai teater tan-
tradisional?
Sumber: Landasan. Kemdikbud Pigura 8.10 Cut Nyak Dien
Produk Komidi Indonesia
Di unduh mulaisejak : Bukupaket.com

Video yang segmen

#Sebutkan #perbedaan #teater #tradisional #dan #teater #modern

visite: megazio.com – detikinfo.megazio.com

You May Also Like

About the Author: detik